Tekanan dan Status Quo Asean antara China-Taiwan – Apabila China menegaskan semula pendiriannya terhadap dasar One China Policy sambil meningkatkan kehadirkan tentaranya. Di sekitar Selat Taiwan. Asean juga akan terkenal dampak tanpa terkecuali awal mula bersuara demi kepentingan, keselamatan dan kestabilan Taiwan. Pertikauan yang dahhulunya hanya di anggap isu dua negara antara Beijing dan Taipei kini menjadi keselamatan Asean yang mampu menggugat Keseimbangan kuasa di Indo-Pasifik. Hubungan antara China dan Taiwan terus berada di bawah tekanan. Lai Ching-Te dari partai Progresif Demokrasi dalam pilihan Taiwan pada tahun 2023. Menandakan kesesinambungan cenderung kepada autonomi sesuatu yang di anggap oleh Beijing sebagai dasar One China Policy.
Penegasan Pemerintahan China
Sejak saat itu kapal perang Tentara Laut Pembebasan Rakyat China dan pesawat pekuan PLA semakin sering melintasi garisan tengah Selat taiwan memberikan isyarat bahwa Beijing sedang menguji tahap ketahanan dan tidak dari komunitas antarbangsa. Tindakan ini bukan hanya menguji Taiwan, tetapi memberikan tekanan kepada negara-negara ASEAN yang bergantung kepada kestabilan maritim untuk perdagangan dan keselamatan ekonomi. Kemudian Selat taiwan merupakan salah satu laluan maritim paling penting di dunia. Yang menjadi nadi utama kepada rangkaian pangan global termasuk ekspor dan impor.
Gangguan ini memberikan dampak kepada ekonomi, pedagangan dan kestabilan energi kawasan. Namn tekanan terhadap ASEAN bukan hanya bersifat ekonomi. Secara geostrategies, ketegangan di Selat Taiwan berpotensi menyebar ke Laut Cina Selatan, wilayah yang sudah menjadi titik panas akibat klaim teritorial yang tumpang tindih. ASEAN yang selama ini selalu berpegang teguh pada netralitas dan sentarlitas kini semakin terjepit di antara dua negara adidaya. Yang masing-masing memiliki pengaruh kuat di kawasan. Jika konflik pecah, ASEAN tidak hanya akan bedampak dari segi keamanan tetapi juga terancam kredibilitas diplomatiknya sebaga pendukung perdamaian regional.
Baca Juga : Krisis Keamanan Asia Timur Mula Persitegangan China-Jepang
Dampak Terhadap ASEAN
Bagi negara-negara ASEAN, ketegangan ini bukan hanya masalah yang bisa di anggap enteng. Blok Asia Tenggara ini merupakan rumah bagi lebih dari 700.000 pekerja migran dan puluhan ribu pelajar di Taiwan. jika konflik pecah. Keselamatan mereka akan menjadi tanggung jawab utama pemerintah ASEAN. Kawasan ini terletak di jantung jalur strategis global seperti Laut Cina Selatan. Saat ini berada dalam psisi sensitif. Setiap perubahan status quo si Selat Taiwan dapat berdampak langsung pada keamanan kawasan, termasuk Malaysia, Singapura dan Filipina yang memiliki hubungan dekat denagn negara adidaya. Dalam konteks ini, ASEAN tidak dapat mengabaikan perkembangan yang ada. Meskipun kebijakan non-intervensi organisasi regional ini merupakan landasan. Kenyataannya konflik bersenjata di Selat Taiwan akan memengaruhi perekonomian, logistik dan rantai pasokan di seluruh kawasan.
Pernyataan atau Tanggapan Malaysia
Malaysia sendiri tetap teguh pada prinsip-prinsip kebijaka luar negerinya yang konsisten. Dalam pernyataan bersama yang di keluarkan bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Malaysia April lalu, kedua negara menyatakan dukungan tegas satu sama lain dalam menjaga kedaulatan, keamanan dan integritas wilayah nasional serta berupaya memajukan persatuan, stabilitas, pembangunan dan kemakmuran nasional.
Pendekatan ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh yang perlu dijaga dengan menghormati psosisi Beijing tanpa mengabaikan kepentingan strategis dan ekonomi yang sama-sama di milikinya dengan Taipei. Namun dalam situasi yang semakin tegang saat ini keseimbangan ini semakin sulit dipertahankan. Oleh karena itu, ASEAN perlu memainkan peran yang lebih aktif sebagai fasilitator dialog antara Beijing dan Taipei sekaligus memperkuat posisinya sebagai pengelola perdamaian regional.

